HADITS “MAN TASYABBAHA BIQOUMIN”

Takhrij al-Hadits

Merujuk pada penjelasan Imam Jalaluddin al-Suyuthi yang dituliskan dalam kitab “Jam’ul Jawaami’”, beliau menjelaskan bahwa hadits “مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ” diriwayatkan oleh Imam Abi Daud dari Sahabat Ibn ‘Umar, Imam al-Nasa’i dari Sahabat Hudzaifah.

Serta dalam Bulughul Maram, Imam Ibn Hajr al-‘Asqalani menjelaskan bahwa hadits tersebut terdapat dalam kitab Sunan Abi Daud.

Sunan Abi Daud:

قال: حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا أَبُو النَّضْرِ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ ثَابِتٍ، حَدَّثَنَا حَسَّانُ بْنُ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي مُنِيبٍ الْجُرَشِيِّ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ»

Imam Abi Daud berkata: “Telah menceritakan kepada kami ‘Utsman ibn Abi Syaibah, berkata: telah menceritakan kepada kami Abu al-Nadhr, berkata: telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman ibn Tsaabit, berkata: telah menceritakan kepada kami Hassaan ibn ‘Athiyyah, dari Abi Munib al-Hursyiy, dari ibn ‘Umar, berkata: Rasulullah Saw. bersabda: barang siapa menyerupai suatu kaum maka dia bagian dari kaum tersebut”.

Hukm al-Hadits

Imam Ibn Hibban berkata bahwa hadits riwayat Imam Abi Daud ini shahih.

Pendapat lain mendhaifkan hadits ini, dikarenakan ada rawi “‘Abdurrahman ibn Tsaabit” yang menurut Al-Mundziri haditsnya lemah. Namun ulama hadits lain seperti Yahya ibn Ma’in, Abu Zur’ah, dan Ahmad ibn ‘Abdillah tidak mempermasalakan hadits dari ‘Abdurrahman ibn Tsaabit. Bahkan ‘Abdurrahman ibn Ibrahim men-tsiqah-kan ‘Abdurrahman ibn Tsaabit.

Jikalau hadits ini dhaif, hadits ini masih memiliki syawahid (hadits satu tema dengan jalur periwayatan dari sahabat lain) yang dapat menaikkan status hadits ini.

Jalur periwayatan lain dari Sahabat Hudzaifah, sebagaimana yang termaktub dalam Musnad al-Bazzar dan al-Mu’jam al-Ausath  oleh Imam al-Thabrani.

Teks hadits dalam Musnad al-Bazzar:

قال: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَرْزُوقٍ ، قَالَ : أَخْبَرَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ الْخَطَّابِ ، قَالَ : أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ غُرَابٍ ، قَالَ : أَخْبَرَنَا هِشَامُ بْنُ حَسَّانَ ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ ، عَنْ أَبِي عُبَيْدَةَ بْنِ حُذَيْفَةَ ، عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، أَنّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم ، قَالَ : مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ.

Syarh al-Hadits

Dalam syarh al-hadits ini penulis menukil dari kitab Ibanatul Ahkam, Subulussalam, dan beberapa sumber lain.

Dalam Ibanat al-Ahkam, Syeikh Abu Abdillah ibn ‘Abdussalam ‘Allusy menjelaskan bahwa maksud hadits “مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ” adalah barang siapa yang menyerupai pakaian dan perilaku yang memang kekhasan dari kaum tersebut maka dia termasuk golongan mereka. Dengan kata lain seorang muslim yang menggunakan/menyerupai pakaian/perbuatan yang memang dikhususkan untuk kaum kafir/fasik maka muslim tersebut telah berdosa bahkan masuk ke dalam kekufuran. Sebaliknya, jika seorang muslim menyerupai pakaian/perbuatan orang shalih maka dia mendapat pahala. Penjelasan serupa juga tertulis dalam kitab ‘Aun al-Ma’bud.

Dalam memahami suatu hadits perlu juga kita merujuk hadits lain sebagai penjelas. Seorang pakar hadits dari Indonesia, Alm. Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, dalam halaqahnya menyampaikan hadits satu dengan hadits yang lain akan saling menafsirkan / menjelaskan.

Pertanyaan yang mungkin muncul dalam benak kita: Apakah Rasulullah Saw. Benar-benar tidak pernah meniru atau menyerupai kaum lain?

Dalam pergaulan Rasulullah Saw. dengan para penduduk Madinah yang majemuk, tidak jarang beliau meniru mode / trend yang sedang ramai saat itu. Sehingga ketika membaca hadits perlu kita pahami apakah Rasulullah Saw. sedang menjelaskan masalah agama atau budaya masyarakat saat itu.

Sebagaimana hadits mauquf dari ‘Abdullah ibn ‘Abbas bahwa Rasulullah Saw. meniru gaya rambut para Ahlul Kitab, yaitu mengurai rambut. Bahkan ‘Abdullah ibn ‘Abbas hingga berkata bahwa Rasulullah Saw. menyukai meniru Ahlul Kitab untuk hal-hal yang memang tidak diperintahkan untuk dijauhi (selama tidak ada larangan).

قال: حَدَّثَنَا عَبْدَانُ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ، عَنْ يُونُسَ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، قَالَ: أَخْبَرَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:«كَانَ يَسْدِلُ شَعْرَهُ، وَكَانَ المُشْرِكُونَ يَفْرُقُونَ رُءُوسَهُمْ، وَكَانَ أَهْلُ الكِتَابِ يَسْدِلُونَ رُءُوسَهُمْ، وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحِبُّ مُوَافَقَةَ أَهْلِ الكِتَابِ فِيمَا لَمْ يُؤْمَرْ فِيهِ بِشَيْءٍ، ثُمَّ فَرَقَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأْسَهُ»

Artinya: “Imam Al-Bukhary berkata: telah menceritakan kepada kami ‘Abdan, berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah, dari Yunus, dari al-Zuhry berkata: telah mengabarkan kepadaku ‘Ubaidullah ibn ‘Abdillah ibn ‘Utbah, dari ‘Abdullah ibn ‘Abbas Ra., berkata: bahwasanya Rasulullah Saw. mengurai rambutnya, dan kaum musyrik membelah tengah rambut mereka, dan adapun Ahlul Kitab mengurai rambut mereka. Adapun Rasulullah Saw. suka meniru Ahlul Kitab untuk hal-hal yang tidak ada larangan padanya. Kemudian Nabi Saw. Membelah tengah rambutnya

Dalam hadits ini tersirat pesan bahwa dalam syariat Islam tidak pernah melarang pemeluknya untuk tetap mempertahankan budaya yang berlaku di tempat tinggal mereka, selama budaya tersebut tidak bertentangan dengan syariat.

Mengenai Hukum Mengucapkan Selamat Hari Raya Agama Lain

Ringkas kata, terdapat dua pendapat para ulama mengenai hukum mengucapkan selamat hari raya untuk agama lain. Sebagian ulama berpendapat haram dan sebagian lain berpendapat mubah / boleh. Berikut penjelasan untuk setiap pendapat tersebut

Pendapat Ulama yang menghukumi Haram

Diantara ulama yang menghukumi haram adalah  Syaikh Ibn Tamiyyah, Syaikh Bin Baz, dan sebagainya. Pengharammnya merujuk pada hadits “مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ”. Para ulama ini berpendapat bahwa mengucapkan selamat hari raya agama lain merupakan kebiasaan / tradisi para penganut agama tersebut. Sehingga bagi muslim yang mengucapkan selamat maka termasuk golongan yang “menyerupai” atau “tasyabbuh” dengan kaum beragama lain. Selain itu pengharaman ini juga dikarenakan ada kekhawatiran seorang muslim membenarkan ajaran agama lain.

Pendapat pertama ini juga merujuk pada ayat:

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا

Artinya: “Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al-Furqan: 72).

Ayat ini menjelaskan bahwa seorang Muslim yang kelak mendapat derajat yang tinggi di surga adalah dengan cara meninggalkan kesaksian palsu. Seorang Muslim yang mengucapkan selamat untuk hari raya agama lain berarti dia telah memberikan kesaksian palsu dan membenarkan keyakinan agam lain.

Pendapat Ulama yang menghukumi Mubah / Boleh

Para ulama yang membelehkan mengucapkan selamat hari raya agama lain diantaranya: Syaikh Yusuf al-Qardhawi, Syaikh Ali Jum’ah, Syaikh ‘Abdullah ibn Bayyah, dsb. Fatwa para ulama ini didasarkan pada ayat QS. Surat al-Mumtahanah ayat 8:

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ   

Artinya: “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”

Dalam ayat tersebut Allah Swt. berfirman bahwa tidak ada larangan bagi para Muslimin untuk berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang beragama lain yang tidak memerangi muslimin. Salah satu perbuatan baik tersebut adalah melalui mengucapkan selamat hari raya. Selain itu dapat pula diimplementasikan dalam bentuk memberikan kebebasan dan rasa aman pemeluk agama lain saat merayakan hari raya agama mereka. Sebagaimana yang dulu pernah dilakukan oleh Sahabat Umar ibn Khaththab Ra. yang menjamin keamanan kaum Nasrani Illiya’ saat mereka merayakan hari raya (Tarikh At-Thabary).

Jika ditelisik lebih jauh, dua pendapat diatas didasarkan pada perbedaan sudut pandang. Pendapat pertama memandang bahwa pengucapan selamat hari raya agama lain merupakan masalah aqidah / ideologi. Sedangkan pendapat kedua memandang persoalan tersebut adalah masalah mu’amalah.

Hukum mana yang akan kita ikuti? Maka tanyakanlah pada hati kita masing-masing. Namun yang terpenting adalah kita mengetahui dasar hukum  fatwa para ulama, sehinga kita sebagai muslim yang berakal tidak hanya “ikut-ikutan saja”.

Ada satu pesan yang begitu indah dari Imam Sufyan al-Tsauri, seorang yang keilmuan fiqh-nya disetarakan dengan para Aimmat al-Madzahib, beliau berpesan: Jika kamu melihat seseorang mengerjakan amalan yang masih dalam perselisihan hukumnya, sementara kamu berpandangan lain, maka janganlah kamu melarangnya (Hilyatul Auliya).

Disampaikan untuk kegiatan “Lautan Ilmu Maghrib” 27 Desember 2018, oleh SKI IT Telkom Purwokerto.